Mahasiswi kedokteran gigi itu, dari gayanya saja sudah bisa kutaksir pasti orang tajir. Setelah sampai di depannya, mas-mas yang mengantarkanku pergi begitu saja, aku ditinggalkan di ruang besar itu, ruang praktikum massal, disitu aku bisa melihat beberapa pasien duduk pasrah sedang ditelanjangi mulutnya dengan beringas oleh para mahasiswi praktek, sangat mengerikan. Aku, mendadak tersadar, seolah bangun dari hipnotis panjang, sedang apa aku disini ya tuhan? Menyerahkan mulut dan segala isinya untuk di obrak-abrik seorang mahasiswi yang belum pernah aku kenal sama sekali bukanlah hal yang terdengar baik, bagaimana jika mahasiswi itu ternyata hampir DO karena IPK-nya terlampau kecil, lalu salah menyuntikkan cairan ke gusi? Akan jadi apa gigiku nanti? Ya Tuhan, apakah aku baru saja kena gendam? cuci otak? ..tolong, aku ingin pulang…
Ingin sekali aku kabur dari tempat itu, biarlah tak dapat jodoh disini pun tak apa, asal aku bisa melarikan diri, tapi apa alasannya? Bukankah tidak lucu jika tiba-tiba aku berkata “maaf mbak, gigi saya mendadak sembuh…terima kasih ya, saya permisi dulu” tapi medusa di depanku itu melancarkan tatapan mautnya, aku tak bisa berkata-kata, tubuhku kaku. Aku bisa menangkap ragu dari mata mahasiswi itu, melihat ekspresinya seolah ia ingin berkata antara “ya Tuhan, mimpi apa aku semalam?” dengan “maaf mas, pasien gagal jantung bukan disini tempatnya”.
Mahasiswi itu dengan santun memberikan sikat gigi baru yang sudah diolesi pasta gigi penuh disepanjang bulu sikatnya, lalu menunjukkan tempat dimana aku bisa menggosok gigi terlebih dulu, yang ternyata lebih mirip tempat mencuci gelas-gelas kimia ketimbang wastafel. Aku berjalan kesana dan mulai menyikat gigi dengan baik dan benar, sementara itu aku mencoba menenangkan diri, mengatur kembali ritme napas agar tak terlalu sengal, mencoba menjernihkan pikiran, lalu berdialog memotivasi diri sendiri dengan kalimat positif “Tenang Sigit, mahasiswi itu bukan psikopat” atau “Sigit, kau hebat, jangan menyerah” atau “Sigit, kau sungguh-sungguh pria idaman”..kalimat-kalimat seperti itu agak berhasil menguatkanku, selesai menyikat gigi aku berjalan lebih mantap, angin sepoi-sepoi meniup-niup rambut dan kemejaku..aku mendadak terlihat begitu….elegan..
Aku duduk di kursi khusus itu sambil mencoba mempertahankan satu kondisi: usahakan agar sebisa mungkin terlihat elegan, kata-kata motivasi terus kulancarkan demi menguatkan hati. Aku menunggu saat-saat yang tepat untuk memulai percakapan, tapi mahasiswi itu terlihat terlalu serius mempersiapkan alat-alat prakteknya, jarum berukuran besar, pinset, gelas kimia berisi cairan biru, kapas tisu dan benda-benda lainnya, ia kemudian memakai masker dan sarung tangan. Sebetulnya, pencarian awalku adalah menemukan medusa tipe satu, yang demikian itu sungguh sangat sesuatu, dan jujur aku tidak begitu tertarik pada medusa tipe tiga dihadapanku ini..tapi kondisi ini sudah terlanjur, siapa tahu..ya siapa tahu.
Ketika disuruhnya membuka mulut, aku membuka mulut dengan cara yang elegan, aku cukup percaya diri dengan kondisi gigi-gigku yang tak ada satupun yang berlubang, juga tidak terlalu berantakan..menurutku, ia menyoroti mulutku dengan senter dan mengamat-amati… kurasa ia jatuh cinta dengan gigiku. Aku masih berusaha terlihat elegan, lalu mahasiswi itu mengambil sebuah benda dan menyumpalkannya ke dalam mulutku, benda mengerikan itu ternyata benda pengganjal mulut, akibat benda itu posisi elegan yang sudah kupertahankan sepanjang waktu menjadi rusak seketika, ia telah memaksa mulutku untuk membuka lebar-lebar, nyengir maksimal yang membuat deretan gigi dari depan dan belakang bisa terlihat dengan jelas, ekspresi yang muncul adalah perpaduan antara ekspresi seorang idiot yang terlampau bahagia.
Aku menyebut benda itu sebagai pemusnah emosi negatif, percayalah, orang seperti apapun, dalam kondisi marah besar, kecewa, sedih yang mendalam, depresi tiada tara lalu anda sumpalkan benda itu ke mulutnya..maka mereka akan seketika terlihat sangat-sangat bahagia secara keterlaluan, pose yang sungguh tidak menawan. Dalam kondisi yang demikian itu, hancurlah sudah pesona dan wibawa, semua kata-kata positif tidak mampu lagi membangkitkan jiwa, berganti kikuk yang canggung. Di tengah kondisi yang serba kikuk itu, tiba-tiba datang seorang perempuan sebaya, ia menyapa mahasiswi dokter gigi di depanku “haiii…maaf, aku telat, tadi mendadak ada urusan dulu”, demi mendengar temannya datang, mahasiswi dokter gigi itu beranjak meninggalkanku dalam kondisi mengenaskan dan mengobrol basa-basi dengan temannya itu..beberapa menit lamanya.
Aku masih dalam pose tidak menawan ketika kemudian mahasiswi dokter gigi itu kembali lagi, kemudian dengan raut muka tanpa dosa ia meminta maaf, katanya “maaf mas, sebetulnya waktu praktek sudah habis saat ini, mas boleh datang lagi kesini lain kali” lalu ia mencatat nomor hanpdhone dalam secarik kertas dan memberikannya padaku ‘ini mas, kalau lain waktu mas mau periksa gigi lagi, boleh janjian dulu sama saya” …apa?? waktu itu harga diriku mendadak seperti diinjak-injak, kau sudah menelanjangi mulut dan segala isinya dengan benda-benda itu dan tidak diapa-apakan selain dilihat-lihat saja? Lalu sekarang aku diusir? Ah..keterlaluan memang, tapi serangan medusa-nya masih tetap mengendalikan tubuhku, aku jadi tak bisa berkata apa-apa hanya bisa berkata pasrah “oke, no problem mbak”…
Setalah berbasa-basi sekilas, aku pergi dari tempat itu, menahan malu yang menusuk-nusuk, kejadian tadi itu sungguh merobek harga diriku, alasannya sungguh di luar logika, waktu praktek sudah habis? tidak mungkin..lalu kenapa aku diterima, kenapa tidak menolak dari awal mula? Aku mendadak galau..dan langsung makan siang. Ah, sebetulnya aku tahu, kenapa aku secara tiba-tiba diusir, tentulah temannya yang baru datang tadi adalah kerabatnya yang sudah janjian menjadi pasien hari ini.
Sudahlah, meskipun tak mengenakkan, tapi kejadian tadi ada bagusnya juga..aku jadi tak perlu lama-lama kikuk dan terkena kutukan medusa tipe tiga, lagipula aku tak tertarik menjadikannya target jodoh. Aku melangkah gontai, meninggalkan skenario-skenario pencarian jodoh yang dituliskan di kepalaku sejak seminggu lalu, lalu melabelinya dengan stempel : NOT RECOMMENDED STRATEGY, ah mungkin memang ada yang salah, aku harus memperbaiki ikhtiarku, atau mungkin memang Allah belum merestuiku untuk segera menikah, mungkin aku memang harus menikmati masa-masa bujangku lebih lama lagi.. bukan, ini bukan akhir cerita, lebah itu hanya belum menemukan mawar yang tepat..dan lebah itu belum menyerah.
